05 June 2026
BREN Cuan Salah Harga

Media Publikasi

Bloomberg Technoz, Jakarta - Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi dua dari sekian saham Grup Prajogo Pangestu yang tertekan di tengah gejolak IHSG. Namun, tekanan ini bukan berarti ada yang salah dengan fundamental perusahaan.

Henan Putihrai Sekuritas mengungkapkan bahwa tekanan harga  BREN dipicu oleh eksklusi dari indeks global MSCI serta penghapusan dari indeks domestik seperti LQ45, IDX80, dan IDX30 akibat tingginya konsentrasi kepemilikan saham atau High Shareholding Concentration (HSC). Kondisi ini memicu aksi jual dana pasif saat rebalancing indeks pada Mei 2026.

“Eksklusi indeks memicu technical overhang yang menyebabkan tekanan jual signifikan, namun tidak mencerminkan perubahan fundamental perusahaan,” demikian dikutip dari riset Henan Putihrai Sekuritas pada Jumat (5/6/2026).

“Eksklusi indeks memicu technical overhang yang menyebabkan tekanan jual signifikan, namun tidak mencerminkan perubahan fundamental perusahaan,” demikian dikutip dari riset Henan Putihrai Sekuritas pada Jumat (5/6/2026).

Secara operasional, BREN tetap menjadi pemain geothermal terbesar di Indonesia dengan kapasitas terpasang 910 MW, melampaui , serta menempati posisi empat besar global. Model bisnisnya ditopang kontrak jual beli listrik (PPA) jangka panjang 20–30 tahun dengan PLN, berbasis dolar AS atau inflasi, sehingga menghasilkan arus kas yang stabil dan visibel.

“Model bisnis berbasis kontrak jangka panjang memberikan visibilitas pendapatan tinggi serta ketahanan terhadap volatilitas eksternal,” lanjut riset tersebut.

Dengan margin EBITDA mencapai 84% serta ekspansi kapasitas menuju 2,3–2,8 GW, pertumbuhan laba dinilai tetap solid. Henan Putihrai menyebut, penurunan harga saat ini menciptakan discounted entry point di tengah prospek pertumbuhan kapasitas dan laba yang kuat.

Sementara itu, CUAN dinilai mengalami market mispricing di tengah ekspansi agresif. Analis Sucor Sekuritas, Andreas Yordan Tarigan mengatakan bahwa penurunan harga CUAN telah menciptakan valuasi yang atraktif, sementara fundamental justru memasuki fase pertumbuhan yang kuat.

Dalam hal ini, produksi batu bara CUAN melonjak signifikan dan ditargetkan terus tumbuh hingga 16 juta ton pada 2028, didukung portofolio batu bara kalori tinggi serta efisiensi operasional. Andreas menyebut, kombinasi pertumbuhan volume, efisiensi biaya, dan ekspansi ke bisnis energi sebagai pendorong utama peningkatan profitabilitas ke depan.

Selain itu, ekspansi ke sektor energi dan mineral dinilai memperkuat prospek jangka panjang perusahaan. “Potensi dari aksi korporasi tambahan seperti konsolidasi aset belum sepenuhnya terefleksi dalam harga saham saat ini,” ujar Andreas dalam risetnya.

Secara keseluruhan, direkomendasikan buy untuk BREN dan CUAN, dengan target harga masing-masing Rp9.125 dan Rp2.030, yang mencerminkan potensi kenaikan signifikan dari level saat ini. Pelemahan harga dinilai lebih dipicu faktor teknikal dan sentimen jangka pendek, sementara fundamental tetap solid.

Dari sisi pergerakan saham, secara year to date (YTD) BREN telah turun sekitar 60,82% dari kisaran awal tahun Rp6.000–6.500/saham ke level Rp3.800/saham. Sementara itu, CUAN terkoreksi 70,09% secara year to date ke kisaran Rp700/saham. 

Henan Putihrai memberikan rekomendasi buy BREN dengan target harga Rp9.125/saham. Sedang Sucor memberikan rekomendasi buy dengan target Rp2.030/saham.

Check news here!

Written by SPOT
sekuritas terbaik
sekuritas terpercaya