QOO - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI menegaskan perannya sebagai penopang pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat senilai Rp178,08 triliun kepada 3,8 juta debitur sepanjang tahun 2025. Capaian itu menempatkan BRI sebagai bank penyalur KUR terbesar di antara 49 bank penyalur lainnya dan memperlihatkan kuatnya posisi perseroan dalam pembiayaan sektor produktif.
Penyaluran yang besar ini penting karena UMKM masih menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Berdasarkan data pemerintah pada akhir 2024, ada 30,18 juta unit usaha UMKM non-pertanian yang menyerap sekitar 97% tenaga kerja di Indonesia, sehingga akses pembiayaan murah dan terukur tetap menjadi kebutuhan utama bagi pelaku usaha.
Fokus penyaluran ke sektor produktif
BRI menempatkan sektor pertanian sebagai penerima manfaat terbesar dari KUR yang disalurkan. Total pembiayaan ke sektor ini mencapai Rp80,09 triliun atau sekitar 44,97% dari keseluruhan portofolio KUR perseroan.
Porsi besar ke pertanian menunjukkan bahwa pembiayaan tidak hanya menyasar perdagangan dan jasa, tetapi juga kegiatan ekonomi yang langsung berhubungan dengan rantai pasok pangan. Dengan pendekatan itu, KUR BRI ikut mendorong perputaran ekonomi di daerah dan memperkuat aktivitas usaha berbasis komoditas.
Mengapa KUR BRI berdampak besar bagi UMKM
KUR menjadi salah satu instrumen pembiayaan yang banyak dicari pelaku usaha karena menawarkan akses modal kerja dan investasi dengan skema yang lebih terjangkau. Bagi UMKM, pembiayaan seperti ini dapat membantu menjaga arus kas, memperluas kapasitas produksi, dan membuka peluang naik kelas.
Dari sisi ekonomi nasional, pembiayaan yang mengalir ke jutaan debitur juga menciptakan efek berantai. Saat usaha kecil memperoleh modal tambahan, aktivitas pembelian bahan baku, distribusi barang, hingga serapan tenaga kerja di tingkat lokal ikut bergerak.
Kinerja perbankan tetap solid
Di tengah penyaluran kredit yang besar, kinerja BRI pada 2025 masih tercatat solid. Aset perseroan tumbuh 7,18% secara tahunan menjadi Rp2.135 triliun, sementara rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio tercatat 21,06%, jauh di atas batas minimum Otoritas Jasa Keuangan sebesar 8%.
Modal yang kuat memberi ruang bagi bank untuk menjaga ekspansi pembiayaan tanpa menekan stabilitas. Profil nasabah BRI yang tersebar di jutaan debitur mikro dengan plafon pinjaman kecil juga membuat risiko bisnis lebih terdiversifikasi, sehingga ketahanan portofolio relatif terjaga.
Poin penting dari capaian BRI
Daya tarik investasi ikut menguat
Selain dari sisi pembiayaan, pasar juga merespons positif kebijakan dividen BRI. Perseroan menetapkan dividen tahun buku 2025 sebesar Rp52,1 triliun atau Rp346 per lembar saham, dan pengumuman itu sempat mendorong penguatan harga saham BBRI sebesar 1,19% dalam tiga hari terakhir.
Riset Sucor Sekuritas menilai dividen yang tinggi tetap menjadi daya tarik utama saham BBRI, terutama di tengah iklim suku bunga rendah. Lembaga riset itu juga menyebut likuiditas yang memadai dan penurunan biaya kredit berpotensi menjaga biaya dana tetap terkendali, sehingga peluang pertumbuhan laba bersih masih terbuka lebar.
Besarnya penyaluran KUR, kuatnya modal, dan basis debitur yang tersebar luas membuat BRI masih menjadi salah satu pemain kunci dalam pembiayaan UMKM nasional. Di saat sektor usaha kecil terus membutuhkan akses modal yang stabil, posisi BRI tetap relevan sebagai penggerak utama pembiayaan produktif di Indonesia.
Check news here!