21 September 2026
Laba Bersih PT Alamtri Resources Indonesia Melonjak 76,83 Persen Pada Semester I 2026

Media Publikasi
Chat News - PT Alamtri Resources Indonesia Tbk mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 76,83 persen menjadi USD309,36 juta atau sekitar Rp5,49 triliun pada semester I 2026, dilansir dari Journalarta. Pertumbuhan kinerja keuangan entitas bisnis yang sebelumnya bernama Adaro Energy Indonesia tersebut ditopang oleh efisiensi operasional serta peningkatan volume penjualan hasil tambang. Pendapatan usaha perusahaan tercatat naik 16,51 persen menjadi USD999,24 juta dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar USD857,69 juta.

Laba bersih yang diraih pada paruh pertama tahun ini tercatat menembus sekitar 50 persen dari estimasi konsensus tahunan dan 60 persen dari target Sucor Sekuritas. Berdasarkan laporan keuangan per 29 Agustus 2026, efisiensi operasional menekan pertumbuhan beban pokok penjualan yang hanya naik 0,55 persen menjadi USD576,55 juta. Laba kotor perusahaan pun terdorong melesat 48,69 persen menjadi USD422,68 juta, sementara laba usaha melonjak 87,76 persen menjadi USD381,76 juta seiring penurunan beban usaha.

Khusus triwulan II 2026, perseroan membukukan laba bersih USD181 juta, meningkat 41 persen secara kuartalan dan 84 persen secara tahunan. Margin EBITDA bertumbuh dari 41,6 persen di kuartal I menjadi 55,8 persen pada kuartal II, disusul kenaikan laba jasa pertambangan sebesar 111 persen secara kuartalan menjadi USD63 juta akibat efisiensi biaya konsumsi.

Posisi total aset perseroan per Juni 2026 tumbuh menjadi USD7,8 miliar dari sebelumnya USD6,81 miliar. Pertumbuhan aset tersebut didorong peningkatan persediaan, aset tetap, aset hak guna, hingga penambahan aset aluminium ingot. Liabilitas berada di posisi USD2,68 miliar akibat penambahan sewa operasional dan pinjaman smelter aluminium, sedangkan ekuitas berada di level USD5,13 miliar.

Sektor pertambangan menyumbang pendapatan terbesar senilai USD581,80 juta, dengan penjualan hasil tambang mencapai USD580,38 juta ke pasar Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Penjualan batubara tercatat mencapai 3,13 juta ton atau naik 8,7 persen secara tahunan, dengan rata-rata harga jual sebesar USD185,4 per ton.

Segmen jasa pengolahan pertambangan melalui anak usaha membukukan pendapatan USD470,81 juta melalui kontrak jangka panjang layanan rental, pengupasan tanah penutup, ekstraksi, hingga transportasi. Kontribusi entitas asosiasi turut menyumbang laba USD33,5 juta, sehingga laba sebelum pajak perusahaan naik 67,18 persen menjadi USD415,9 juta.

Check news here!

Written by SPOT
sekuritas terbaik
sekuritas terpercaya