IDXChannel - Di tengah tekanan pasar akibat ancaman perubahan status Indonesia dalam indeks MSCI, investor mulai dihadapkan pada peluang untuk mengakumulasi saham di harga yang lebih menarik.
Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mencapai 15 persen sejak pengumuman MSCI telah membawa valuasi sejumlah saham ke level rendah.
Sementara, peluang Indonesia terhindar dari skenario terburuk masih terbuka melalui perbaikan yang dilakukan regulator.
Chief Strategist Officer Arief Putra menilai, investor perlu mulai mempertimbangkan penambahan posisi pada sektor-sektor yang sebelumnya direkomendasikan underweight, termasuk perbankan.
Namun, strategi pembelian perlu dilakukan secara bertahap untuk mengantisipasi kemungkinan tekanan jual berlanjut.
Dalam riset pada 20 Oktober 2026, Arief menyoroti bahwa MSCI masih membuka konsultasi dengan pelaku pasar hingga 30 April 2027 sebelum mengumumkan keputusan final pada 30 Juni 2027.
Lembaga penyedia indeks global itu tengah mengkaji kemungkinan menurunkan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi standalone market.
Meski ketidakpastian tersebut masih membayangi pasar, Arief menilai regulator Indonesia memiliki berbagai instrumen untuk mencegah penurunan status.
Jika langkah perbaikan mampu menjawab kekhawatiran MSCI dan sentimen pasar berbalik, saham-saham yang telah terkoreksi dalam berpotensi menawarkan peluang beli menarik.
Salah satu sektor yang patut dicermati adalah perbankan.
“Melihat kondisi pasar saat ini, investor dinilai mulai perlu mempertimbangkan untuk menambah posisi pada sektor-sektor yang sebelumnya kami rekomendasikan underweight, termasuk sektor perbankan,” kata Arief.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kini diperdagangkan pada rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV) sekitar 2,2 kali, level yang jarang terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) masing-masing berada di kisaran 1,1-1,2 kali PBV. Valuasi kedua bank pelat merah tersebut berpotensi menjadi yang terendah sejak era pandemi Covid-19.
Meski demikian, valuasi murah tidak serta-merta menandakan tekanan jual telah berakhir.
Arief mengingatkan, selama kepanikan masih mendominasi pasar, harga saham masih berpeluang melemah.
Karena itu, investor perlu menyiapkan strategi untuk menghadapi dua kemungkinan, yakni koreksi lanjutan atau pembalikan sentimen secara tiba-tiba.
Arief menyarankan pembelian bertahap dengan menetapkan alokasi dana sejak awal.
Investor dapat memulai dengan sebagian dari target investasinya, kemudian menambah posisi dalam beberapa tahap apabila harga kembali turun.
Pendekatan ini memungkinkan investor memanfaatkan peluang tanpa menghabiskan seluruh dana pada tahap awal.
Selain perbankan, saham-saham eksportir juga masih menjadi pilihan di tengah ketidakpastian pasar global.
Meski telah mencatatkan kinerja lebih baik dibandingkan pasar, investor tetap perlu selektif dalam menentukan titik masuk.
Arief menilai, saham eksportir berpotensi menjadi lindung nilai terhadap penguatan dolar Amerika Serikat (AS), terutama apabila lonjakan harga minyak yang tidak terkendali mendorong peralihan investor ke aset aman atau memperburuk krisis utang global.
Sucor Sekuritas mempertahankan saham pilihan yang memiliki pendapatan dalam dolar AS, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
Sementara, saham-saham produsen emas dapat kembali dicermati apabila harga emas terkoreksi di bawah USD4.000 per ons. (Aldo Fernando)
Check news here!