Pengamat Ungkap Alasan Pasar Modal Penting bagi Prabowo
Media Publikasi
Bisnis.com, JAKARTA — Kepala Ekonom Sucor Sekuritas Ahmad Mikail Zaini mengingatkan bahwa kunci keberhasilan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam membawa Indonesia keluar dari middle income trap sangat bergantung pada optimalisasi dan pendalaman pasar modal nasional. Mikail menjelaskan bahwa pendalaman pasar keuangan dinilai menjadi sarana krusial untuk melipatgandakan pendapatan per kapita masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
"Gampangnya gini, rumus 7-2. Kalau kita bisa bertumbuh 7% saja, di bawah target pemerintah 8%, maka income per capita kita double. Berarti kalau sekarang income per capita kita US$5.000, kalau kita tumbuh 7% aja, income per capita kita bisa US$10.000," ujar Ahmad Mikail di Wisma Bisnis Indonesia, Senin (19/10/2026).
Dia melanjutkan, jika pertumbuhan ekonomi mampu dipertahankan pada level 7% hingga 8% per tahun, produk domestik bruto (PDB) per kapita nominal Indonesia dalam kurun satu dekade mendatang diproyeksikan menembus US$10.000 atau setara US$30.000 berdasarkan purchasing power parity (PPP).
Karena itu, guna mencapai target pertumbuhan ekonomi 7% tersebut, pemerintah perlu mendorong ekspansi kredit perbankan nasional hingga menyentuh kisaran 20%–25% per tahun.
Sektor perumahan melalui Program 3 Juta Rumah dinilai menjadi salah satu penggerak utama (engine of growth), mengingat angka backlog perumahan di Indonesia saat ini masih mencapai 20 juta keluarga.
"Cek data pertumbuhan ekonomi itu gampang, lihat dari pertumbuhan kredit perbankan. Kalau ekonomi kita tumbuh 5%, biasanya total kredit perbankan tumbuh 11%–12%. Tapi kalau kita tumbuh 4%, biasanya total kredit perbankan tuh 7%–8%. Jadi kalau kita mau tumbuh ekonomi 7%–8%, total kredit perbankan kita harus tumbuh 20% paling tidak," tegasnya.
Masalahnya, tambah Mikail, perbankan nasional dinilai tidak akan mampu memikul ekspansi kredit sebesar 20% secara mandiri karena pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dalam lima tahun terakhir cenderung tertahan di level 8%–10%. Oleh karena itu, instrumen sekuritisasi aset di pasar modal menjadi salah satu solusi utama untuk menutup celah likuiditas perbankan serta menyediakan pembiayaan jangka panjang yang murah bagi masyarakat. Skema ini memungkinkan institusi pengelola dana jangka panjang, seperti BPJS Ketenagakerjaan dan Taspen, menyerap aset kredit pemilikan rumah (KPR) perbankan. Dengan demikian, bunga pinjaman bagi generasi muda dapat dikunci pada level rendah dalam jangka panjang.
"Nah itu yang dilakukan sama Malaysia tahun 1998. Jadi dia pake internal sources-nya [menolak pinjaman IMF] dengan dia membangun capital market. Akhirnya tahun 2010 total kredit bank sama total outstanding obligation corporation di Malaysia itu sama 50:50. Jadi menurut saya, masa depan Pak Prabowo itu adanya capital market," pungkasnya.