Penurunan valuasi saham BBCA dari tingkat historisnya juga dipandang membuka peluang akumulasi bagi investor. Dalam riset tertanggal 20 Oktober 2026, analis Sucor Sekuritas Edward Lowis menyoroti ketahanan fundamental BBCA di tengah tantangan industri perbankan. Bank ini mencatatkan return on equity (ROE) sebesar 24 persen dan return on assets (ROA) 3,8 persen pada semester I-2026.
Kedua indikator tersebut menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari modal dan aset yang dikelola. Menurut Edward, capaian itu mencerminkan kekuatan operasional yang berkelanjutan, bukan hasil ekspansi neraca secara agresif ataupun pemanfaatan leverage berlebihan.
Efisiensi juga menunjukkan perkembangan positif. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional atau cost-to-income ratio (CIR) BBCA tercatat membaik menjadi 29,3 persen pada semester I-2026. Selain efisiensi, tingkat leverage yang relatif moderat, yakni sekitar 6 kali, serta kebijakan kredit yang berhati-hati turut menopang profitabilitas. Kombinasi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung ketahanan kinerja bank ketika kondisi industri mengalami tekanan.
Dana murah dan likuiditas memperkuat posisi BBCA
Kekuatan pendanaan menjadi salah satu keunggulan utama BBCA dibandingkan tantangan yang dihadapi industri perbankan. Ekosistem transaksi yang kuat membantu bank menghimpun dana murah, sehingga kebutuhan pendanaannya tidak terlalu bergantung pada persaingan mendapatkan simpanan berbiaya tinggi. Pada semester I-2026, rasio dana murah atau current account saving account (CASA) BBCA mencapai 84,3 persen. Capaian tersebut menonjol ketika sejumlah bank pesaing menghadapi tekanan dalam penghimpunan dana murah.
Dari sisi penyaluran dana, rasio loan to deposit ratio (LDR) BBCA berada di kisaran 80 persen dan termasuk yang terendah di antara bank-bank besar. Posisi ini memberikan ruang likuiditas untuk mendukung penyaluran kredit tanpa harus meningkatkan persaingan penghimpunan dana pihak ketiga secara agresif. Menurut penilaian Sucor Sekuritas, struktur pendanaan tersebut membantu menjaga net interest margin (NIM) sekaligus memberikan fleksibilitas saat permintaan kredit melemah. Pendapatan berbasis komisi yang relatif tangguh juga dinilai dapat membantu mengimbangi tekanan terhadap pendapatan bank.
Proyeksi kredit dan laba BBCA menghadapi tekanan
Meskipun memiliki sejumlah keunggulan fundamental, BBCA tetap menghadapi tantangan berupa melemahnya permintaan kredit. Edward Lowis memperkirakan pertumbuhan kredit bank tersebut melambat menjadi 5-6 persen seiring kondisi permintaan yang kurang kuat.
Sucor Sekuritas juga memperhitungkan biaya kredit atau cost of credit sebesar 80–100 basis poin. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tingkat historis yang rendah, sehingga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam menilai prospek keuntungan. Dengan memasukkan asumsi pertumbuhan kredit yang lebih moderat dan kenaikan biaya kredit, Sucor Sekuritas memproyeksikan laba bersih BBCA mencapai Rp55,7 triliun pada 2026.
Untuk 2027, laba bersih diperkirakan berada di angka Rp54,8 triliun. Ketahanan pendanaan, pengendalian biaya, dan kontribusi pendapatan komisi dipandang dapat membantu mengurangi dampak perlambatan tersebut. Faktor-faktor ini juga menjadi penopang kapasitas laba ketika kondisi operasional berangsur membaik.
Dari sisi pencadangan, rasio loan-loss reserve ratio (LLR) BBCA berada di kisaran 3 persen. Menurut penilaian Sucor Sekuritas, dukungan pencadangan bersama efisiensi dan kualitas aset dapat membantu meredam volatilitas laba sepanjang siklus kredit.
Target harga BBCA berada di Rp6.800 per saham
Dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental dan berbagai risiko industri, Sucor Sekuritas tetap memberikan rekomendasi beli untuk saham BBCA. Target harga yang ditetapkan sebesar Rp6.800 per saham, dengan valuasi price to book value (PBV) sekitar 2,7 kali berdasarkan proyeksi ke depan.
Edward menilai penurunan valuasi BBCA dibandingkan tingkat historisnya memberikan kesempatan bagi investor untuk mengakumulasi saham tersebut. Pertimbangan ini berkaitan dengan fundamental bank yang dinilai masih terjaga meskipun pertumbuhan kredit berpotensi melambat dan biaya kredit meningkat.
Ketahanan laba, struktur pendanaan yang kuat, dan peluang pemulihan kinerja menjadi faktor yang mendukung posisi BBCA sebagai salah satu pilihan defensif di sektor perbankan Indonesia. Meski demikian, proyeksi laba dan target harga tersebut tetap didasarkan pada asumsi yang digunakan Sucor Sekuritas dalam risetnya.
Check news here!