JAKARTA, investor.id – Setelah sempat menguat pada 18 dan 19 Juni 2026 lalu dan stagnan di 22 Juni, kini suratan takdir saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) akhirnya berbalik anjlok 5,29% ke Rp 805 pada akhir sesi I perdagangan Selasa (23/6/2026).
Sebanyak 1,25 miliar saham emiten Grup Sinar Mas DSSA diperdagangkan, frekuensi 89.882 kali, dan nilai transaksi Rp 1,07 triliun.
Saham Dian Swastatika Sentosa melorot karena tekanan jual. Berdasarkan data pada aplikasi Stockbit Sekuritas per jeda siang ini, saham berkode DSSA membukukan net sell Rp 267,9 miliar, tertinggi di antara saham-saham net sell lainnya.
Padahal pada perdagangan Senin (22/6/2026) kemarin, saham emiten holding ini membukukan net buy investor asing Rp 28,47 miliar.
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), emiten Grup Sinar Mas, sebelumnya menjadi saham yang paling banyak dijual oleh investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pekan lalu atau selama 15-19 Juni 2026. Lantas, bagaimana prospek saham DSSA ke depan?
Asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) saham DSSA sebesar Rp 838,6 miliar dalam sepekan lalu. Penjualan terjadi di pasar reguler BEI, berdasarkan data Stockbit Sekuritas yang diakses pada Minggu (21/6/2026).
Net sell asing pada saham DSSA merupakan yang terbesar, diikuti saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Net sell asing pada saham AMMN sebesar Rp 630,2 miliar dan BUMI senilai Rp 553,3 miliar.
Secara umum, investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 904 miliar di seluruh pasar BEI dalam sepekan terakhir. Ini melanjutkan pekan sebelumnya yang juga melakukan net sell senilai Rp 5,98 triliun.
Saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) belakangan ini tampak berusaha bangkit selepas didepak dari indeks MSCI Global Standard. Ini tak lepas dari prospek mentereng kinerja DSSA, sehingga kalangan broker memandang positif saham emiten Grup Sinar Mas ini.
Menurut Sucor Sekuritas, DSSA adalah konsolidator dari bisnis telekomunikasi dan teknologi Grup Sinar Mas. DSSA kini berupaya mengurangi ketergantungan dari bisnis batu bara PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS).
“Rencana DSSA mengambil 35% saham PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) di harga Rp 523 per saham menggambarkan arah kebijakan untuk masuk ke rantai nilai sektor infrastruktur telekomunikasi,” tulis Sucor dalam risetnya.
Selain itu, DSSA telah membentuk perusahaan patungan dengan First Gen untuk mengembangkan proyek pembangkit listrik geotermal 460 megawatt (MW) dengan target operasi komersial pada 2020. Net present value proyek ini ditaksir US$ 895 juta dengan IRR 11%.
Ekspansi ke bisnis telekomunikasi, teknologi, dan geotermal akan menaikkan nilai pasar yang bisa digarap DSSA menjadi US$ 76 miliar dari US$ 33 miliar.
Sucor memprediksi CAGR pendapatan DSSA mencapai 11% pada 2025-2030 menjadi US$ 4,7 miliar, sedangkan laba bersih 27% menjadi US$ 749 juta atau setara Rp 13,3 triliun.
Karena itu, Sucor mempertahankan rekomendasi buy saham DSSA dengan target harga Rp 990.
Check news here!