12 February 2026
Bisnis Emas dan Digitalisasi Dongkrak 2 Juta Nasabah Baru BSI Sepanjang 2025

Media Publikasi
Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) atau BSI mencatat penambahan 2 juta nasabah sepanjang 2025, seiring penguatan transformasi digital dan pengembangan bisnis emas perseroan. 

Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari optimalisasi model bisnis BSI, termasuk pemanfaatan izin sebagai bullion bank yang diperoleh pada 2025.

“Dalam kurun waktu delapan bulan terakhir sejak BSI mendapat license Bullion Bank, kenaikan bisnis emas melesat di atas 100%,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (12/2/2026). 

Menurut Cahyo, salah satu tantangan bank syariah saat ini adalah keterbatasan kehadiran fisik di ruang publik serta persepsi akses produk yang belum sepenuhnya universal. 

“Dulu jarang ada kita melihat keterwakilan bank syariah di public place. Jika ada ATM ditempatkan di cabang. Sekarang mesin ATM BSI berlokasi di tempat-tempat umum atau pusat keramaian,” ujarnya.

Dalam dua tahun terakhir, BSI menempatkan sekitar 5.000 unit ATM/CRM di berbagai lokasi strategis serta memperluas jaringan EDC dan QR melalui kerja sama dengan merchant. Langkah tersebut dinilai mendorong peningkatan inklusi dan literasi produk syariah, terutama di segmen ritel.

Sepanjang 2025, peningkatan customer based BSI mencapai 2 juta orang. Di saat yang sama, kelolaan emas bullion tercatat sekitar 2 ton. Emas disebut menjadi salah satu instrumen yang relatif mudah diterima masyarakat karena bersifat universal dan dinilai sebagai investasi jangka panjang.

Kinerja BSI 
BSI membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 8,02% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp7,57 triliun sepanjang 2025, meningkat dibandingkan dengan tahun lalu Rp7,00 triliun. 

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyampaikan kinerja positif sepanjang 2025 itu didorong oleh sejumlah indikator yang tumbuh secara berkelanjutan.  

Misalnya saja pembiayaan yang tumbuh double digit 14,49% YoY menjadi Rp319 triliun pada 2025. Begitu pula dengan himpunan dana pihak ketiga (DPK) BSI yang tumbuh 16,20% YoY menjadi sebesar Rp380 triliun. 

“Tentu saja ini semua merupakan hasil dari channel-channel digital dan juga channel-channel di cabang,” kata Anggoro dalam Konferensi Pers Kinerja Tahun 2025 BSI secara daring, Jumat (6/2/2026). Berdasarkan data terminal Bloomberg pada Kamis (5/2/2026) malam, laba bersih BRIS diperkirakan mencapai Rp8,86 triliun sepanjang 2026. 

Sucor Sekuritas memperkirakan laba bersih BRIS mencapai Rp8,7 triliun, tumbuh 14,1% YoY pada 2026. Selain itu, sekuritas lain seperti UBS mengestimasikan laba bersih BRIS pada 2026 sebesar Rp9,34 triliun, di atas angka konsensus.  

Analis Sucor Sekuritas Edward Lowis mengatakan bahwa Sucor Sekuritas mempertahankan pandangan yang konstruktif terhadap prospek laba dan memperkirakan BRIS akan mencatatkan jalur pertumbuhan yang lebih kuat pada periode 2026–2027. “Laba bersih diproyeksikan mencapai Rp8,7 triliun pada 2026 atau tumbuh 14,1% YoY, serta meningkat menjadi Rp10,2 triliun pada 2027 atau tumbuh 17,8% YoY,” jelas Edward dalam laporannya, dikutip pada Jumat (6/2/2026). 

Edward menjelaskan, proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi pertumbuhan kredit sekitar 14%, margin bunga bersih (NIM) yang stabil, serta biaya kredit yang sedikit lebih tinggi namun masih terkelola pada level 1,0%.  

Check news here!

 
Written by SPOT
sekuritas terbaik
sekuritas terpercaya