Jakarta, 23 Juli 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi tipis 0,09% ke level 6.334 pada perdagangan Rabu, 22 Juli 2026, menghentikan tren penguatan yang berlangsung selama 10 hari perdagangan berturut-turut. Pelemahan ini lebih disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) investor setelah reli panjang yang sempat mendorong IHSG ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Bank Indonesia turut mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 21-22 Juli 2026, sejalan dengan upaya menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Di tengah dinamika pasar tersebut, PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) hadir dalam sesi Stock Idea Talks Special bersama Sucor Sekuritas untuk memaparkan strategi bisnis dan rencana ekspansi jangka panjang Perseroan. Direktur Utama HATM, Andrew Kam, menyampaikan bahwa Perseroan tengah mempersiapkan sejumlah agenda strategis, termasuk rencana private placement senilai hingga 800 juta saham baru serta ekspansi armada kapal dalam skala besar.
HATM berencana menggelar penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) dengan menerbitkan hingga 800 juta saham baru, setara 9,22% dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan. Harga pelaksanaan akan ditetapkan minimal 90% dari rata-rata harga penutupan saham HATM selama 25 hari bursa berturut-turut sebelum tanggal pengajuan pencatatan saham tambahan. Aksi korporasi ini berpotensi mendilusi kepemilikan pemegang saham yang tidak berpartisipasi hingga sekitar 8,44%.
Dana hasil private placement akan digunakan terutama untuk penambahan armada kapal, dengan sisanya dialokasikan untuk pembayaran pinjaman bank serta kebutuhan modal kerja. Rencana ini masih menunggu persetujuan pemegang saham dalam RUPS Luar Biasa yang dijadwalkan pada 21 Agustus 2026.
Andrew Kam menjelaskan bahwa Perseroan saat ini mengoperasikan armada dengan kapasitas kapal di kisaran 30.000, 50.000, hingga 90.000 DWT, dengan tingkat utilisasi yang berada di atas 99-100% pada kuartal II 2026, pasca-terbitnya Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari sejumlah klien tambang. Ia turut menyampaikan bahwa masih ada ketidakpastian di pasar kargo akibat sejumlah RKAB yang belum terbit, serta gangguan operasional akibat cuaca ekstrem yang memengaruhi aktivitas tambang dan pelayaran.
Dalam kesempatan tersebut, Andrew Kam memaparkan visi jangka panjang Perseroan untuk menambah armada hingga tiga kali lipat dalam 10 tahun ke depan, dengan estimasi investasi sekitar USD300 juta. Sebagai langkah awal menuju visi tersebut, Perseroan menargetkan penambahan 1-3 kapal baru dalam jangka waktu satu tahun ke depan, meski realisasi tahun ini diperkirakan sedikit mengalami keterlambatan, dengan target minimal penambahan 3 kapal pada tahun berikutnya.
Ia menambahkan bahwa sebelum pelaksanaan rights issue sebelumnya, Perseroan hanya memiliki 5 kapal, dan kini telah bertambah menjadi 9 kapal. Dana dari private placement turut disiapkan untuk mendukung partisipasi dalam tender internasional, seiring Perseroan juga tengah menjajaki opsi pendanaan tambahan melalui fasilitas pinjaman bank untuk mendukung capex.
Andrew Kam menyampaikan bahwa apabila Perseroan berhasil memenangkan tender internasional, pendapatan bersih Perseroan berpotensi meningkat 20-25%. Ia juga mencatat bahwa tingkat cost of appreciation di pasar internasional masih menarik, meski pasar domestik relatif lebih stabil karena sifatnya yang lebih terproteksi.
Dari sisi struktur pelanggan, sekitar 80-85% pendapatan Perseroan berasal dari klien kontrak jangka panjang, dengan sisanya mengikuti mekanisme pasar. Secara kuartalan (QoQ), Perseroan mencatatkan lonjakan kinerja hingga ratusan persen, dan meski proyeksi paruh kedua tahun ini diperkirakan relatif mirip dengan kuartal II, secara tahunan kinerja tetap menunjukkan peningkatan.
Perseroan turut menjajaki sejumlah kerja sama dengan mitra strategis, termasuk dari China, sebagai bagian dari rencana private placement berikutnya. Andrew Kam juga menegaskan bahwa eksposur Perseroan terhadap volatilitas nilai tukar relatif minim karena transaksi menggunakan basis dolar AS yang dirupiahkan, dengan mitigasi melalui instrumen hedging. Ia menyebut bahwa faktor global seperti kenaikan harga minyak akibat gejolak geopolitik lebih berpengaruh terhadap biaya operasional Perseroan dibandingkan pergerakan nilai tukar rupiah.
“Sebagai Perseroan, kami selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi para pemegang saham. Kami akan terus berkembang karena kami sudah memiliki roadmap yang jelas,” ujar Andrew Kam.