24 September 2026
Fokus Ekspansi Ultra Mikro, Laba Bersih BBRI Tumbuh 17,5% di Semester I 2026

C-Talks
Jakarta, 24 September 2026 – IHSG ditutup melemah 1,20% ke level 6.298,61 pada akhir perdagangan Kamis (24/9/2026). Pelemahan dipicu oleh saham-saham berkapitalisasi besar, dengan seluruh sektor berada di zona merah. Pelemahan ini terjadi sehari setelah Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 5,75% pada RDG 22-23 September 2026, penahanan ketiga berturut-turut. Di tengah dinamika pasar tersebut, Sucor Sekuritas menggelar Stock Idea Talks Special bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) pada Rabu (23/9/2026), dengan menghadirkan Senior Investor Relations BBRI, Andi Anugrah Amrullah.

Sebagai salah satu bank BUMN dengan fokus utama di segmen mikro dan UMKM, BBRI mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang semester I 2026. Laba bersih 1H26 naik 17,5% YoY ke Rp31,2 triliun. NIM BBRI tercatat 7,7%, jauh di atas rata-rata industri 4,3%. Dari sisi kualitas aset, LAR BBRI turun ke 9,1% dari 9,7% pada 1Q26, dibandingkan LAR industri 8,5%.
"BRI tidak menjadi bank corporate, kami lebih fokus ke UMKM," ujar Andi. Ia menambahkan bahwa saat ini "belum ada aksi korporasi yang signifikan, kami hanya fokus di ultra mikro saja." Menurutnya, segmen mikro masih dalam proses pembenahan, tetapi sudah mulai menunjukkan perbaikan. Ekspansi ke segmen korporasi dan komersial dijalankan secara selektif untuk memperkuat hubungan value chain, sementara mikro tetap menjadi inti dengan porsi 43,4% dari total kredit BBRI pada 1H26.

Andi menilai kondisi industri perbankan saat ini cukup kondusif, dengan kredit industri tumbuh 12,7% YoY per data OJK 1H26. Di tengah kondisi itu, kredit dan pembiayaan konsolidasian BBRI tumbuh lebih tinggi, yaitu 16,2% YoY ke Rp1.646 triliun. Struktur pendanaannya masih ditopang dana murah, tercermin dari rasio CASA sebesar 67,6%.
Fokus ultra mikro tersebut ditopang ekosistem BRI, Pegadaian, dan PNM yang melayani 33,8 juta nasabah UMi dan mikro. Portofolio mikro grup mencapai Rp712,9 triliun atau tumbuh 6,4% YoY, dengan Pegadaian menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan seiring kenaikan harga emas. "Pegadaian merupakan salah satu potensi pertumbuhan dan profitabilitas," kata Andi. Untuk biaya kredit, Andi menyebut, "Level pra-pandemi itu sekitar 2%, dan kami memperkirakan arahnya menuju ke sana dalam 3-5 tahun ke depan, tetapi tidak bisa terlalu rendah lagi." Pada kuartal II 2026, net cost of credit turun 39 bps QoQ menjadi 1,69%.

Untuk biaya kredit, Andi menyebut level pra-pandemi sekitar 2%, dan BBRI memperkirakan arahnya menuju ke sana dalam 3-5 tahun ke depan, tetapi "tidak bisa terlalu rendah lagi." Pada 2Q26, cost of credit gross konsolidasian tercatat 2,96%, sementara net CoC turun 39 bps QoQ menjadi 1,69%.

Terkait dividen, Andi menyebut rencana pembagian dividen interim saat ini masih dalam diskusi dengan mempertimbangkan likuiditas industri perbankan. Sebagai gambaran, total dividen tahun buku 2025 mencapai Rp52,1 triliun atau Rp346 per saham. Andi menambahkan bahwa BBRI perlu menyeimbangkan dividen dengan kebutuhan modal. "Untuk saat ini BBRI punya modal yang cukup kuat, jadi masih ada ruang untuk dividen. Ke depan, saat BBRI tumbuh lebih pesat, laba akan tumbuh pesat dan dividen yang diberikan ke investor juga akan bertumbuh," ujar Andi.

 
Written by SPOT
sekuritas terbaik
sekuritas terpercaya