Dilansir dari CNBC Indonesia dan Databoks, total nilai penjualan bersih investor asing di seluruh pasar modal dalam sepekan mencapai Rp904,1 miliar. Meskipun dilepas oleh asing secara masif, harga saham DSSA tercatat mengalami kenaikan sebesar 12,58 persen menjadi Rp850 per lembar saham pada penutupan pekan tersebut.
Di sisi lain, emiten Grup Sinar Mas ini dilaporkan tengah melakukan penataan ulang portofolio bisnis dengan mengonsolidasikan ekosistem telekomunikasi dan teknologi guna mengurangi ketergantungan pada bisnis batu bara. Langkah tersebut dilakukan melalui akuisisi 35 persen saham PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) oleh perusahaan afiliasi.
"Melalui langkah ini, DSSA berupaya melakukan integrasi vertikal di sepanjang rantai nilai infrastruktur telekomunikasi sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas laba dan menghasilkan arus kas yang lebih tangguh dan berulang," jelas Niko Pandowo, analis Sucor Sekuritas.
Menurut hasil riset Sucor Sekuritas yang dilansir Investor id, ekspansi ini akan memperluas cakupan pasar perseroan di sektor teknologi yang diproyeksikan tumbuh positif dalam jangka panjang. Niko memproyeksikan pendapatan DSSA berpotensi tumbuh dengan CAGR sebesar 11 persen berkat kontribusi dari ekosistem digital baru ini.
"Kami menilai, DSSA menarik secara fundamental setelah terkoreksi 81% secara year-to-date (ytd). Apalagi, meningkatnya eksposur DSSA terhadap ekosistem teknologi mestinya dapat mendongkrak valuasi perseroan ke level yang lebih tinggi dalam jangka panjang," tandas Niko Pandowo, analis Sucor Sekuritas.
Selain DSSA, investor asing juga tercatat banyak melepas sejumlah saham berkapitalisasi besar dan komoditas lainnya di pasar domestik dalam periode mingguan yang sama.
| Peringkat | Nama Emiten (Kode Saham) | Nilai Jual Bersih (Net Sell) |
|---|---|---|
| 1 | PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) | Rp838,6 miliar |
| 2 | PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) | Rp646,4 miliar |
| 3 | PT Bumi Resources Tbk (BUMI) | Rp554,5 miliar |
| 4 | PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) | Rp372,4 miliar |
| 5 | PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) | Rp279,7 miliar |
| 6 | PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) | Rp224,9 miliar |
| 7 | PT Darma Henwa Tbk (DEWA) | Rp216,8 miliar |
| 8 | PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) | Rp213,2 miliar |
| 9 | PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) | Rp211,5 miliar |
| 10 | PT Astra International Tbk (ASII) |