Laba Kotor Naik 102,9%, TOBA Bidik Rerating Lewat Limbah, Energi Terbarukan, dan EV
C-Talks
Jakarta, 1 Oktober 2026 –IHSG menutup perdagangan terakhir September di zona merah. Setelah sempat menguat pada awal sesi, indeks berbalik turun 0,83% atau 50,56 poin ke level 6.071,14 kemarin, Rabu (30/9/2026). Sektor energi ikut bergejolak: sektor ini sempat terkoreksi paling dalam, 2,76%, pada penutupan 22 September, meski harga batu bara termal Newcastle masih bertahan di level tinggi, mendekati rekor 52 minggu. Di tengah dinamika tersebut, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menunjukkan arah transformasi dari bisnis batu bara menuju infrastruktur berkelanjutan, seperti dipaparkan dalam Stock Idea Talks Special Sucor Sekuritas, Rabu (30/9/2026).
TBS membukukan perbaikan kinerja pada semester I 2026. Rugi bersih menyempit 83,2% menjadi USD19,4 juta dari USD115,3 juta pada periode sama tahun lalu. Laba kotor naik 102,9% menjadi USD28,2 juta dan EBITDA adjusted tumbuh 23,7% menjadi USD25,7 juta, sementara pendapatan relatif stabil di USD173,0 juta (+0,5% YoY). Perbaikan ini ditopang efisiensi beban pokok yang turun 8,5% sehingga gross margin naik dari 8% menjadi 16%.
Dalam acara tersebut, TBS diwakili Mirza Hippy (SVP Investor Relations) dan Nafi Sentausa (SVP Corporate Strategy). Nafi menegaskan arah jangka panjang perseroan. "Kami ingin bertumbuh for good. Kami sangat meyakini masa depan bisnis kami lebih dari sekadar legacy. Kami ingin menjadi pemain sustainable infrastructure," ujarnya.
Sementara itu, Mirza menjelaskan bahwa tekanan pada kinerja merupakan bagian dari transisi. "Kami mengalami short-term dip demi long-term value creation. Harapan kami ke depan, ada rerating untuk TBS di waste management, renewable energy, dan electric vehicle," katanya.
Per 1H 2026, kas perseroan tercatat USD94,7 juta, cukup untuk menutup kewajiban jangka pendek. Pinjaman bank jangka pendek turun 30,9% dibanding akhir 2025 menjadi USD8,5 juta. Rasio net loans/EBITDA adjusted membaik ke 5,4x dari 5,6x pada FY2025.
TBS sendiri fokus pada strategi tiga pilar: manajemen limbah, energi terbarukan, dan ekosistem kendaraan listrik. Perseroan telah melepas penuh PLTU (MCL dan GLP) pada 2025, dan fase 2025–2027 difokuskan pada integrasi platform regional, perbaikan struktur modal, serta keunggulan operasional. Bisnis batu bara tetap dipertahankan untuk menopang pengembangan bisnis baru, dengan bauran pendapatan yang ke depan semakin didominasi tiga pilar tersebut.
Manajemen limbah menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan USD105,9 juta (61,2% dari total) dan EBITDA adjusted USD23,6 juta. Bisnis ini dijalankan lewat CORA Environment dan Asia Medical Enviro Services (pangsa pasar limbah medis sekitar 45%) di Singapura, serta ARAH Environmental yang beroperasi di 15 provinsi di Indonesia, dengan total sekitar 350 armada. TBS menargetkan pertumbuhan secara organik maupun anorganik.
Di energi terbarukan, PLTMH Adimitra Energi Hidro (6 MW, Lampung) mencapai 82,1% dari target PLN, sementara PLTS terapung NTBE (46 MWp) telah 65% selesai dan ditargetkan COD pada kuartal IV 2026. Di kendaraan listrik, unit motor listrik Electrum tumbuh 172% menjadi 13.883 unit dan stasiun penukaran baterai naik 72% menjadi 550 unit, bersama mitra seperti Pertamina, Alfamart, dll.