Harga saham PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) menunjukkan performa impresif dengan lonjakan signifikan sebesar 62,88% dalam sepekan terakhir, mencapai level 340. Kenaikan drastis ini diyakini terkait erat dengan strategi ekspansi bisnis perseroan serta prospek cerah kawasan industri yang didorong oleh tren relokasi pabrik global ke Indonesia.
Menurut analisis Sucor Sekuritas, KIJA berada dalam posisi strategis untuk memanfaatkan momentum pertumbuhan pesat sektor kawasan industri di Tanah Air. Emiten ini dinilai memiliki portofolio aset yang beragam, meliputi industri, rekreasi, dan logistik, yang diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan berkelanjutan.
Tensi Geopolitik dan Daya Saing KEK
Sucor Sekuritas menyoroti bahwa peningkatan tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Cina berpotensi mendorong produsen global untuk mendiversifikasi rantai pasokan mereka ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Hal ini menempatkan KIJA sebagai salah satu operator kawasan industri yang dikelola dengan baik di Indonesia.
“KIJA berada di posisi yang tepat sebagai salah satu operator kawasan industri yang dikelola dengan baik di Indonesia, mengelola beberapa kawasan industri KEK di Cikarang dan Kendal, serta eksposur logistik melalui Morotai,” tulis Sucor Sekuritas dalam risetnya, Senin (12/1).
Dari sisi valuasi, saham KIJA dinilai masih sangat menarik. Saham perseroan diperdagangkan pada level 0,7 kali nilai buku dan 6,2 kali laba tahun 2026E. Berdasarkan analisis Sucor Sekuritas, harga saham KIJA diproyeksikan dapat menembus level 550 per saham. Catatan Mureks menunjukkan, kapitalisasi pasar yang relatif kecil membuat saham ini kerap terabaikan investor, padahal memiliki potensi besar.
Peluang Pengembangan Bisnis di Berbagai Kawasan
KIJA mengelola total lahan sekitar 5.012 hektare yang tersebar di beberapa lokasi strategis, yaitu Jababeka, Kendal, Tanjung Lesung, dan Morotai. Tiga di antaranya, yakni Kendal, Tanjung Lesung, dan Morotai, telah berstatus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Status KEK ini memberikan insentif fiskal dan non-fiskal, serta kemudahan perizinan, yang secara signifikan meningkatkan daya saing di mata investor.
Unit Bisnis Energi sebagai Penopang Pendapatan Berulang
Selain properti, KIJA juga memiliki unit bisnis energi melalui PT Bekasi Power Plant. Perusahaan ini memasok listrik ke PLN berdasarkan perjanjian 20 tahun yang dimulai sejak Februari 2011. Untuk kawasan Kendal, distribusi listrik dilakukan oleh United Power, yang membeli listrik dari PLN dan menjualnya kembali ke penyewa dengan margin 6%-7%. Saat ini, baru 51 dari 135 penyewa yang beroperasi, menyisakan ruang pertumbuhan yang signifikan. Laba bersih dari segmen energi diperkirakan mencapai Rp 162 miliar hingga Rp 183 miliar pada periode 2026–2027.
Mureks merangkum proyeksi Sucor Sekuritas yang menunjukkan pertumbuhan pendapatan KIJA akan ditopang oleh kawasan Kendal. Penjualan pemasaran (marketing sales) Kendal diperkirakan naik dari Rp 2,14 triliun pada 2024 menjadi Rp 2,7 triliun hingga Rp 3,1 triliun pada 2025–2026. Ini akan mendorong total marketing sales perseroan menjadi Rp 3,9 triliun hingga Rp 4,5 triliun.
Pendapatan keseluruhan juga diproyeksikan meningkat dari Rp 4,60 triliun pada 2024 menjadi Rp 4,98 triliun hingga Rp 5,89 triliun pada 2025–2026. Margin kotor diperkirakan stabil di level 40%, sementara margin operasional berada di kisaran 26%-27%. Dengan struktur kinerja tersebut, laba bersih KIJA diperkirakan akan naik menjadi Rp 404 miliar hingga Rp 507 miliar pada 2025–2026, mencerminkan profil pendapatan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Check news here!