16 January 2026
Saham KIJA Melesat 62% Sepekan: Prospek Kawasan Industri dan KEK Jadi Penopang Utama

Media Publikasi

Harga saham  () menunjukkan performa impresif dengan lonjakan signifikan sebesar 62,88% dalam sepekan terakhir, mencapai level 340. Kenaikan drastis ini diyakini terkait erat dengan strategi ekspansi bisnis perseroan serta prospek cerah kawasan industri yang didorong oleh tren relokasi pabrik global ke Indonesia.

Menurut analisis Sucor Sekuritas, KIJA berada dalam posisi strategis untuk memanfaatkan momentum pertumbuhan pesat sektor kawasan industri di Tanah Air. Emiten ini dinilai memiliki portofolio aset yang beragam, meliputi industri, rekreasi, dan logistik, yang diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan berkelanjutan.

Tensi Geopolitik dan Daya Saing KEK

Sucor Sekuritas menyoroti bahwa peningkatan tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Cina berpotensi mendorong produsen global untuk mendiversifikasi rantai pasokan mereka ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Hal ini menempatkan KIJA sebagai salah satu operator kawasan industri yang dikelola dengan baik di Indonesia.

“KIJA berada di posisi yang tepat sebagai salah satu operator kawasan industri yang dikelola dengan baik di Indonesia, mengelola beberapa kawasan industri KEK di Cikarang dan Kendal, serta eksposur logistik melalui Morotai,” tulis Sucor Sekuritas dalam risetnya, Senin (12/1).

Dari sisi valuasi, saham KIJA dinilai masih sangat menarik. Saham perseroan diperdagangkan pada level 0,7 kali nilai buku dan 6,2 kali laba tahun 2026E. Berdasarkan analisis Sucor Sekuritas, harga saham KIJA diproyeksikan dapat menembus level 550 per saham. Catatan Mureks menunjukkan, kapitalisasi pasar yang relatif kecil membuat saham ini kerap terabaikan investor, padahal memiliki potensi besar.

Peluang Pengembangan Bisnis di Berbagai Kawasan

KIJA mengelola total lahan sekitar 5.012 hektare yang tersebar di beberapa lokasi strategis, yaitu Jababeka, Kendal, Tanjung Lesung, dan Morotai. Tiga di antaranya, yakni Kendal, Tanjung Lesung, dan Morotai, telah berstatus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Status KEK ini memberikan insentif fiskal dan non-fiskal, serta kemudahan perizinan, yang secara signifikan meningkatkan daya saing di mata investor.

  • Kota Jababeka: Aset paling matang secara komersial dengan sisa lahan 1.291 hektare. Berlokasi strategis di koridor industri timur Jakarta, dengan akses tol dan konektivitas ke Pelabuhan Tanjung Priok, Patimban, serta pusat ekonomi Jakarta. Kawasan ini menjadi rumah bagi industri otomotif, elektronik, barang konsumsi, dan manufaktur lainnya.
  • Kawasan Industri Kendal: Memiliki lahan siap dikembangkan seluas 351 hektare dan berstatus KEK. Dikelola melalui joint venture antara KIJA (51%) dan Sembcorp (49%). Insentif KEK meliputi tax holiday, pembebasan PPN, bea impor, serta penyederhanaan izin.
  • Tanjung Lesung: Proyek jangka panjang KIJA di sektor pariwisata dan rekreasi dengan lahan 1.000 hektare. Menawarkan keindahan pantai pasir putih, olahraga air, dan panorama Gunung Krakatau. Optimalisasi nilai kawasan ini sempat tertahan akibat keterlambatan pembangunan Jalan Tol Serang–Panimbang, yang kini sudah 90% rampung. KIJA tengah mencari mitra strategis untuk mengembangkan potensi kawasan ini, serupa dengan peran Sembcorp di Kendal. Manajemen berharap mitra baru dapat memanfaatkan peluang logistik pasca-dibukanya jalur pelayaran langsung ke Hainan serta meningkatkan minat investor setelah akses tol tuntas pada 2026–2027.

Unit Bisnis Energi sebagai Penopang Pendapatan Berulang

Selain properti, KIJA juga memiliki unit bisnis energi melalui PT Bekasi Power Plant. Perusahaan ini memasok listrik ke PLN berdasarkan perjanjian 20 tahun yang dimulai sejak Februari 2011. Untuk kawasan Kendal, distribusi listrik dilakukan oleh United Power, yang membeli listrik dari PLN dan menjualnya kembali ke penyewa dengan margin 6%-7%. Saat ini, baru 51 dari 135 penyewa yang beroperasi, menyisakan ruang pertumbuhan yang signifikan. Laba bersih dari segmen energi diperkirakan mencapai Rp 162 miliar hingga Rp 183 miliar pada periode 2026–2027.

Proyeksi Kinerja Keuangan KIJA

Mureks merangkum proyeksi Sucor Sekuritas yang menunjukkan pertumbuhan pendapatan KIJA akan ditopang oleh kawasan Kendal. Penjualan pemasaran (marketing sales) Kendal diperkirakan naik dari Rp 2,14 triliun pada 2024 menjadi Rp 2,7 triliun hingga Rp 3,1 triliun pada 2025–2026. Ini akan mendorong total marketing sales perseroan menjadi Rp 3,9 triliun hingga Rp 4,5 triliun.

Pendapatan keseluruhan juga diproyeksikan meningkat dari Rp 4,60 triliun pada 2024 menjadi Rp 4,98 triliun hingga Rp 5,89 triliun pada 2025–2026. Margin kotor diperkirakan stabil di level 40%, sementara margin operasional berada di kisaran 26%-27%. Dengan struktur kinerja tersebut, laba bersih KIJA diperkirakan akan naik menjadi Rp 404 miliar hingga Rp 507 miliar pada 2025–2026, mencerminkan profil pendapatan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Check news here!

Written by SPOT
sekuritas terbaik
sekuritas terpercaya