20 January 2026
When Life Hands You a Torch, Light the Way

Billiansyah Abdillah
0 comments
Ada masa dalam hidupku ketika aku begitu yakin akan satu hal: Aku bukan pemimpin. Bukan karena tidak ingin, tapi karena sejak dulu aku merasa lebih nyaman berjalan di belakang. Menjadi tangan kedua, menjadi pendengar, menjadi pelengkap—itulah zona nyamanku. Dalam banyak hal aku tak pernah mau mengejar sorotan, tak pernah haus menjadi yang pertama, dan aku menjalani peran itu dengan penuh penerimaan, bahkan rasa syukur. Bagiku, menjadi pengikut bukanlah kekalahan—hanya pilihan yang terasa lebih sesuai.

Namun hidup, seperti biasa, punya caranya sendiri untuk mengguncang keyakinan yang kita anggap mutlak. Beberapa bulan lalu, leader-ku harus menjalani cuti panjang karena akan menjadi seorang ibu. Tak ada pengumuman besar, tak ada tongkat estafet yang resmi berpindah tangan. Tapi pelan-pelan, sebagian tanggung jawab mulai dialihkan padaku. Bukan sebuah tanggung jawab besar yang sampai mengubah sistem, memang, namun cukup untuk membuat langkahku terasa sedikiiiit lebih berat dari biasanya.

Awalnya aku ragu. Siapa aku, hingga orang lain bisa bergantung padaku? Aku tidak terbiasa memimpin arah, apalagi mengambil keputusan atas nama tim. Namun hari-hari berjalan, dan aku tak punya pilihan selain belajar. Belajar membagi waktu dengan lebih bijak, belajar menyuarakan pendapat dengan (terpaksa) percaya diri, dan yang terpenting belajar menampung kegelisahan orang lain tanpa menambah beban mereka.

Dalam perjalanan singkat tersebut, ada satu hal yang paling kurasakan. Yang membuat semuanya terasa mungkin bukanlah semata kehadiranku, tapi support system yang tak pernah benar-benar pergi. Ada rekan-rekan yang diam-diam mendukung, ada ruang diskusi yang terbuka untuk saling belajar, dan ada rasa saling percaya yang tumbuh dari kegamangan bersama.

Di tengah proses itu, aku menyadari bahwa menjadi pemimpin bukan berarti menjadi sosok yang tahu segalanya. Bukan tentang mendominasi, bukan pula tentang selalu benar. Kadang, memimpin adalah tentang berdiri saat yang lain butuh arah, tentang berani mengambil keputusan meski belum yakin sepenuhnya, dan tentang menumbuhkan kepercayaan—pada diri sendiri, dan pada tim kecil ini.

Kini, aku tak lagi hanya melihat diriku sekadar sebagai pengikut. Aku mungkin tidak lahir dengan karakter pemimpin yang kuat, dan tidak akan serta merta langsung berkhayal menjadi presiden, tapi aku harus belajar, dan terus belajar. Belajar bahwa ternyata, kemampuan memimpin itu bukan milik segelintir orang terpilih melainkan sesuatu yang bisa tumbuh dalam siapa pun yang mau membuka diri untuk mencoba.

Dan mungkin di situlah letak keajaibannya; hal-hal yang dulu kupikir mustahil, perlahan menjadi nyata, saat aku mulai berkata, “Maybe it’s not impossible, but I’m possible.”
Written by Billiansyah Abdillah
Sekuritas Terdepan
Sekuritas Terpercaya
Sucor Sekuritas
Sucor
life
hands
Billiansyah
Abdillah
Comments