JAKARTA, 11 Februari 2026 – Memasuki awal tahun 2026, pasar keuangan global dan domestik mengalami tekanan yang cukup signifikan. Sejumlah pembaruan outlook dari lembaga internasional seperti MSCI, Moody’s, dan FTSE memicu volatilitas di pasar saham Indonesia pada Januari lalu, bahkan sempat mendorong terjadinya trading halt. Dinamika tersebut terjadi beriringan dengan transisi kalender Tiongkok menuju Tahun Kuda Api, yang secara simbolik identik dengan fase perubahan cepat, volatilitas tinggi, namun juga membuka peluang baru bagi investor.
Menangkap momentum tersebut, Sucor Sekuritas menggelar acara perayaan Chinese New Year Market Outlook 2026 bertema “Ride the Fire Horse, Chase the Profit” pada 11 Februari 2026. Acara ini menghadirkan Ci Lely LV (Chinese Metaphysics Expert), Michael Yeoh (Professional Trader), dan dimeriahkan oleh para financial influencer dan investor.
Acara dibuka oleh CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya, yang menekankan pentingnya kesiapan investor menghadapi volatilitas pasar di awal tahun.
“Sejak awal Januari, kami sudah mengingatkan potensi koreksi pasar melalui program Ttalks Sucor. Kami mengapresiasi langkah cepat OJK dan BEI dalam merespons dinamika yang dipicu pembaruan dari MSCI, Moody’s, dan FTSE. Dengan berbagai action plan yang sudah berjalan, kami melihat kondisi pasar berpotensi lebih kondusif menjelang akhir Februari, dengan area teknikal penting di kisaran resistance 8.329 dan potensi penutupan gap menuju 8.875. Pergantian menuju Tahun Kuda Api mencerminkan fase perubahan besar. Banyak struktur lama yang akan ‘berganti kulit’, termasuk di pasar modal.” papar Bernadus.
Chinese metaphysics. Ia menjelaskan bahwa energi Tahun Kuda Api membawa karakter cepat, panas, dan penuh dinamika, sehingga investor dituntut untuk menjaga stabilitas emosi dan disiplin dalam pengambilan keputusan. Tahun ini dinilai sebagai periode yang menuntut keberanian beradaptasi, fokus pada strategi, serta pengelolaan risiko yang lebih ketat.
Ia juga melihat potensi peningkatan aliran dana asing ke pasar emerging markets, termasuk Indonesia, terutama pada kuartal kedua hingga ketiga tahun ini. Faktor global, khususnya kebijakan dan kondisi ekonomi Amerika Serikat, dinilai tetap menjadi penentu utama arah pasar domestik. Dari sisi sektor, peluang dinilai terbuka pada area properti dan infrastruktur, teknologi dan digital, energi dan lingkungan, logistik dan transportasi, peternakan, serta sektor konsumer.
“Energi Kuda Api terasa sangat dinamis, namun justru menuntut investor untuk tetap tenang. Jika emosi stabil, strategi jelas, dan money management terjaga, peluang keuntungan di tahun ini tetap terbuka. Kami juga melihat potensi inflow asing akan meningkat pada pertengahan tahun seiring membaiknya sentimen global,” ungkap Ci Lely LV.
Sementara itu, Michael Yeoh menyoroti dinamika global yang berpotensi menguntungkan emerging markets. Ia menilai pelemahan dolar AS dan tingginya yield obligasi AS dapat mendorong rotasi dana global, sementara tren kenaikan harga emas diperkirakan masih berlanjut hingga 2026 didorong oleh pembelian bank sentral global dan China. Menurutnya, tekanan yang terjadi di pasar Indonesia saat ini lebih bersifat struktural daripada fundamental, sehingga berpotensi mereda setelah berbagai isu terselesaikan.
“Ketika ekonomi AS melambat, emerging markets justru memiliki peluang. Tekanan yang terjadi di Indonesia saat ini lebih bersifat struktural. Setelah isu-isu tersebut mereda, kami melihat potensi rebound, khususnya pada saham komoditas dan konglomerasi, dengan momentum yang bisa muncul mulai kuartal kedua tahun ini,” ujar Michael Yeoh.
Beberapa sektor dan emiten yang dinilai menarik untuk dicermati antara lain sektor komoditas dan hilirisasi seperti PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Timah Tbk. (TINS), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). *Disclaimer on: bukan ajakan jual
CNY
sekuritas terbaik
sekuritas terpercaya