13 July 2026
IHSG Diprediksi di Bawah 6.000, Analis Sebut Imbas 'Loyonya' Nilai Tukar Rupiah

Media Publikasi
Inilah - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak terbatas atau sideways di kisaran 5.800-6.000, seiring masih tingginya ketidakpastian global.

Senior Technical Analyst Sucor Sekuritas, Reyhan Pratama mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah memang meningkatkan risiko keluarnya modal asing (capital outflow). Namun belum tentu memicu aksi jual besar-besaran dari investor.

Dia menilai, pelaku pasar modal pada saat ini, tidak hanya mencermati pergerakan rupiah, tetapi juga mempertimbangkan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), perkembangan konflik geopolitik, serta fundamental ekonomi Indonesia.

"IHSG yang masih bergerak sideways di kisaran 5.800-6.000 mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar di tengah tingginya ketidakpastian global. Terutama konflik geopolitik dan penguatan dolar AS," ujar Reyhan kepada inilah.com, Jakarta, Senin (13/7/2026).

Menurutnya, pelemahan rupiah memang meningkatkan risiko capital outflow. Akan tetapi tidak lantas memicu arus keluar dana asing dalam jumlah besar. Saat ini, investor global masih mempertimbangkan sejumlah faktor sebelum mengambil keputusan investasi.

Reyhan memproyeksikan, sektor yang paling tertekan akibat pelemahan rupiah dan IHSG, adalah industri otomotif, tekstil, aviasi dan bahan baku impor yang sangat bergantung nilai tukar dolar AS. Sehingga emiten sektor tersebut mengalami tekanan yang luar biasa.

"Sebaliknya, sektor energi, batu bara, migas, serta emiten berbasis komoditas ekspor, berpotensi mendapat sentimen positif. Karena komoditas mengalami kenaikan harga," kata dia.

Ke depan, dia memperkirakan, pergerakan IHSG masih akan sangat dipengaruhi konflik AS dengan Iran. Jika ketegangan meningkat, tekanan terhadap rupiah dan volatilitas pasar saham domestik, menjadi tetap tinggi. "Namun jika eskalasi konflik mereda dan arus modal asing kembali masuk, rupiah maupun IHSG berpeluang pulih secara bertahap," tuturnya.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) lewat RTI Business, sesi I perdagangan, IHSG melaju kencang dari zona merah ke hijau. Menguat 0,11 persen atau setara 6,47 poin, menuju level 5.930,83.

Kabar baik dari IHSG ini, ditopang kenaikan 5 indeks sektoral dari total 11 sektor di BEI. Di mana, sektor yang naik paling tinggi adalah barang konsumer non-primer, naik 1,47 persen. Disusul sektor barang baku 0,56 persen, infrastruktur 0,52 persen, energi 0,25 persen, dan transportasi 0,10 persen.

Sementara untuk sektor keuangan mengalami penurunan 0,69 persen, disusul properti dan real estate anjlok 0,35 persen, kesehatan ambruk 0,31 persen, barang konsumer primer longsor 0,28 persen, teknologi turun 0,12 persen dan perindustrian 0,11 persen.

Total volume perdagangan saham di BEI pada Senin siang, mencapai 14,79 miliar dengan nilai transaksi Rp6 triliun. Terdapat 266 saham yang menguat, menjadi penopang IHSG. Sedangkan, sebanyak 326 saham lainnya melemah dan 197 saham stagnan.

Check news here!

Written by SPOT
sekuritas terbaik
sekuritas terpercaya