Hambatan administrasi selama masa transisi kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) berdampak pada penundaan volume pengiriman. Di sisi lain, aturan Domestic Market Obligation (DMO) berpatok US$ 70 per ton menjadi penekan utama rata-rata harga jual emiten.
"Kebijakan DMO memberikan tekanan terhadap average selling price (ASP), khususnya bagi emiten dengan porsi penjualan domestik yang besar. Harga DMO yang masih dipatok sebesar US$ 70 per ton membuat selisih antara harga domestik dan harga ekspor semakin lebar ketika harga batubara internasional meningkat," ujar Thoriq kepada Kontan, Jumat (24/7/2026).
Selain faktor DMO, pembengkakan biaya operasional turut menggerus profitabilitas emiten pada periode ini. Kenaikan tajam harga bahan bakar minyak solar domestik sebesar 35% hingga 40% secara quarter-on-quarter (qoq) mendorong lonjakan biaya tunai hingga 29% qoq.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan mencermati bahwa tingginya biaya produksi berpotensi menahan manfaat kenaikan volume penjualan dan harga ekspor.
"Kami memperkirakan biaya akan mengimbangi sebagian besar manfaat pendapatan, terutama dengan kenaikan tajam harga bahan bakar, yang akan mengalir ke biaya penambangan, pengangkutan, dan logistik," jelas Erindra dalam risetnya, Rabu (22/7/2026).
Lonjakan beban operasional tersebut berpotensi menahan pertumbuhan EBITDA emiten seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Ditambah lagi, proyeksi imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang menyentuh 7,1% memicu kenaikan asumsi WACC di seluruh emiten.
Equity Research Analyst Sucor Sekuritas Yoga Ahmad Gifari menekankan bahwa penyesuaian proyeksi keuangan terpaksa dilakukan akibat kombinasi risiko regulasi dan suku bunga tinggi.
"Kami memangkas estimasi laba bersih di seluruh cakupan riset kami, mencerminkan ketidakpastian kepatuhan DSI, risiko royalti, dan lingkungan suku bunga yang lebih tinggi," tulis Yoga dalam risetnya, Jumat (3/7/2026).
Kendati demikian, emiten yang mampu menjaga efisiensi serta mengamankan visibilitas pendapatan jangka panjang dinilai tetap memiliki prospek positif pada paruh kedua tahun ini.
Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menyebutkan, strategi efisiensi biaya menjadi kunci utama emiten untuk meredam dampak volatilitas harga komoditas global.
Untuk rekomendasi saham, BRI Danareksa Sekuritas menyarankan Buy untuk ITMG dengan target harga Rp 34.000 per saham. Sementara itu, Sucor Sekuritas merekomendasikan Buy untuk AADI dengan target harga Rp 12.600 per saham dan DEWA dengan target harga Rp 350 per saham, serta mempertahankan rekomendasi Hold untuk PTBA dengan target harga Rp 2.400 per saham.
Check news here!