Berdasarkan laporan riset Sucor Sekuritas, memanasnya suhu politik di Timur Tengah menggairahkan kembali aktivitas bisnis hulu minyak. Kondisi tersebut sejalan dengan target pemerintah untuk melipatgandakan produksi minyak nasional demi memperkuat ketahanan energi.
Peningkatan aktivitas pengeboran serta rencana pengerjaan megaproyek migas seperti Masela dan Andalan kini kian gencar. Dalam konteks ini, ELSA menempati posisi strategis sebagai proxy dari program penguatan ketahanan energi Indonesia.
"Perseroan diuntungkan oleh peningkatan aktivitas di bisnis hulu tanpa harus menghadapi risiko langsung dari volatilitas harga," tulis Sucor Sekuritas, dikutip dilansir dari Investor Daily pada Minggu (26/7/2026).
Sementara itu, ketegangan kawasan kian meluas dari Selat Hormuz hingga ke Selat Bab el-Mandeb, yang berimbas pada memanaskan kembali harga komoditas energi tersebut. Pada Kamis pekan ini, harga minyak Brent spot sempat melambung ke level US$102 per barel, sementara jenis WTI melonjak hingga US$91,7 per barel.
Kendati demikian, pergerakan harga Brent dan WTI mulai mendingin pada Jumat, masing-masing berada di posisi US$98,6 per barel dan US$89,1 per barel. Penurunan terbatas ini dipicu oleh munculnya laporan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang didukung Pakistan untuk meredakan kecemasan pasokan.
Check news here!