Jakarta, 20 Juli 2026 – Konsumsi rumah tangga Indonesia menunjukkan daya tahan yang tetap terjaga memasuki paruh kedua 2026, meski menghadapi tekanan musiman. Bank Indonesia mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2026 diprakirakan berada di level 221,6, dengan tren bulanan yang membaik dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2026 tumbuh 5,52% secara tahunan, mencerminkan daya beli masyarakat yang masih relatif kuat. Kondisi ini turut menopang sentimen positif di sektor consumer goods, di tengah IHSG yang ditutup di level 6.231,78 atau menguat 0,91% pada perdagangan Senin, 20 Juli 2026.
Momentum inilah yang turut mewarnai sesi Stock Idea Talks Special Sucor Sekuritas bersama PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO), atau Win&Co Group yang dihadiri oleh Fendy Pan VP Corporate Strategy Win&Co Group. COCO menyampaikan strategi ekspansi regional dengan memasuki Pasar Asia Tenggara melalui Bibica Corporation, salah satu produsen makanan ringan dan confectionery terkemuka asal Vietnam. Langkah ini dilakukan melalui penandatanganan Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) pada 6 Mei 2026 untuk mengambil alih hingga 99,99% saham Momogi Group, selaku induk usaha Bibica. Transaksi akan efektif setelah seluruh persyaratan pendahuluan terpenuhi.
Dalam sesi tersebut, COCO menyampaikan bahwa Vietnam dinilai sebagai salah satu pasar dengan prospek pertumbuhan paling menjanjikan di kawasan Asia Tenggara. Didukung populasi lebih dari 100 juta jiwa, pertumbuhan ekonomi yang solid, serta kelas menengah yang terus berkembang, Vietnam dinilai memiliki fondasi kuat bagi industri makanan ringan dan confectionery ke depan. COCO menyampaikan bahwa saat ini Perseroan hanya melayani pasar Indonesia dengan nilai pasar realistis sekitar USD1,9 miliar. Pasca-akuisisi, dengan terbukanya akses ke pasar ASEAN yang bernilai USD28,6 miliar dengan CAGR sekitar 6% pada periode 2025–2030, cakupan pasar Perseroan berpotensi naik hingga 15 kali lipat.
Win&Co memilih jalur akuisisi terhadap pemain yang telah memiliki posisi mapan di pasar, sebagai strategi untuk mempercepat masuknya Perseroan ke pasar Vietnam. Bibica dikenal sebagai salah satu produsen confectionery terbesar di Vietnam, menempati posisi tiga besar di kategori permen dengan portofolio merek yang telah dikenal luas oleh konsumen domestik. Selain merek yang kuat, Bibica juga didukung jaringan distribusi yang luas, menjangkau lebih dari 140.000 titik penjualan di seluruh Vietnam, serta telah merambah pasar ekspor ke sejumlah negara termasuk Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Thailand, dan Filipina.
Sebagai gambaran fundamental Perseroan, hingga akhir tahun buku 2025 COCO mencatatkan pendapatan (FY25 Revenue) sebesar Rp165 miliar dengan total aset (FY25 Assets) mencapai Rp542 miliar, tingkat utilisasi kapasitas produksi sebesar 24,5%, serta portofolio 314 SKU di bawah merek Schoko dan D'Lanier. Dari sisi kontribusi pendapatan, segmen B2B melalui Schoko masih menjadi kontributor utama Perseroan, didukung oleh lini distribusi serta segmen B2C premium yang terus dikembangkan ke depan.
"Vietnam menjadi langkah awal ekspansi kami karena kesamaan karakteristik dengan Indonesia sebagai pasar dengan pertumbuhan ekonomi cepat di kawasan Asia, didukung populasi besar dan pertumbuhan ekonomi di kisaran 3-8%. Melalui akuisisi Bibica, yang telah mengekspor produknya ke 20 negara termasuk Amerika Serikat, kami membuka akses pasar yang sebelumnya belum tergarap besar oleh COCO, sementara Momogi sendiri saat ini tengah memperluas penetrasinya ke kawasan Timur Tengah setelah pasar ASEAN cukup merata. Ke depan, prioritas kami adalah merampungkan proses akuisisi dan konsolidasi, lalu fokus memastikan eksekusi post-akuisisi berjalan lancar salah satunya melalui sentralisasi fungsi R&D agar dapat menciptakan produk-produk baru berbasis portofolio SKU yang sudah kami miliki" papar Fendy Pan VP Corporate Strategy Win&Co Group.
Rencana akuisisi Bibica melalui Momogi Group ini menjadi bagian dari fase "Next Growth Phase" dalam perjalanan bisnis Perseroan, yang turut didukung oleh rencana rights issue guna mendukung transformasi COCO menuju platform terintegrasi cocoa-to-FMCG. Sepanjang perjalanannya sebagai perusahaan terbuka sejak pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 2019, Perseroan telah menjalani sejumlah tahapan penguatan bisnis, mulai dari perluasan jaringan gudang, perolehan sertifikasi standar keamanan pangan internasional, hingga masuknya pemegang saham pengendali baru dan penyelesaian rights issue (PMHMETD II) pada 2025 sebagai bagian dari penguatan struktur permodalan.
sekuritas terbaik
sekuritas terpercaya
COCO