Jakarta, 26 Juni 2025 – Di tengah dunia yang terus diguncang ketegangan geopolitik, terutama konflik Iran–Israel yang nyaris memicu perang regional, Sucor Sekuritas menghadirkan forum edukatif eksklusif STalks bertajuk “Kebangkitan Pax Judaica”, bersama Ahmad Mikail Zaini, ekonom senior Sucor Sekuritas.
Dalam forum ini, Mikail mengulas potensi perubahan arah tatanan kekuasaan global setelah dunia nyaris tergelincir ke perang besar akibat serangan balasan Israel terhadap target AS dan Iran. Ketegangan ini bahkan sempat mengancam penutupan Selat Hormuz—jalur laut strategis yang menyuplai hampir 45% kebutuhan minyak Tiongkok—dan mendorong harga minyak ke potensi USD 2.300–3.000 per barel.
Yang menarik, dalam laporan tahun 2022, Ahmad Mikail sempat menyampaikan prediksi mengejutkan bahwa dunia sedang menuju era baru kekuasaan global . Pax Judaica mengacu pada sebuah periode di mana dominasi global tidak lagi berada di tangan Barat (Pax Americana) atau Timur (Pax Sinica), melainkan bergeser ke Israel yang mulai mendominasi bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya global, yang didukung oleh peran aktif lobi politik dan pengaruh militer di kawasan strategis.
Namun, di balik ancaman geopolitik yang mencuat, justru muncul peluang strategis yang perlu dicermati investor. Menurut Ahmad Mikail, konflik Iran-Israel mempercepat momentum dedolarisasi global, di mana transaksi energi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dolar AS, melainkan mulai menggunakan mata uang lain seperti yuan, yen, dan euro. Pergeseran ini telah melemahkan indeks dolar dan secara bersamaan meningkatkan permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas.
Sucor Sekuritas memperkirakan bahwa jika gencatan senjata dapat dipertahankan dan harga minyak dunia bertahan di kisaran USD 65 per barel pada awal Juli, maka peluang pemangkasan suku bunga The Fed mencapai 80 persen. Penurunan sebesar50 hingga 75 basis poin berpotensi terjadi antara Juli hingga September. Hal ini diyakini akan mendorong penguatan signifikan di pasar obligasi dan saham, seiring menurunnya tekanan inflasi bahkan mengarah pada potensi deflasi. “Jika harga minyak stabil rendah, The Fed bisa memangkas suku bunga hingga tiga kali dalam semester kedua, dan ini akan jadi sinyal kuat bagi risk-on assets,” tambah Mikail.
Indonesia dinilai berada di posisi yang sangat menguntungkan dalam skenario ini. Rupiah diproyeksikan menguat hingga Rp15.500 per dolar AS, ditopang oleh kestabilan mitra dagang seperti Tiongkok serta arus perdagangan yang semakin efisien. Sinyal penguatan juga tercermin di pasar obligasi domestik, di mana yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun telah turun menuju level 6,6% dan diperkirakan bisa menyentuh 6,3% jika arah kebijakan The Fed lebih akomodatif. Lebih jauh, harga emas global pun berpotensi menembus USD 3.000 per troy ounce apabila The Fed benar-benar mengakhiri siklus pengetatannya lebih cepat dari ekspektasi pasar.