Setelah melewati semester pertama yang penuh tantangan, pasar saham Indonesia masih dibayangi ketidakpastian global dan tren pertumbuhan ekonomi yang melambat. Sepanjang paruh pertama 2025, IHSG mengalami tekanan akibat perlambatan konsumsi domestik, pelemahan belanja fiskal, dan ketegangan geopolitik global, termasuk konflik Iran-Israel dan ancaman terhadap jalur minyak utama dunia.
Dalam forum STalks 25 Juni 2025 bertajuk “Market Outlook Second Half 2025”, lebih dari 100 peserta hadir secara langsung di acara yang menghadirkan dua narasumber utama: Kartika Sutandi, CEO Jarvis Asset Management, dan Reyhan Pratama, Teknikal Analis dari Sucor Sekuritas.
Dalam paparannya, Kartika Sutandi menyoroti meningkatnya konsentrasi kapitalisasi pasar global pada saham-saham teknologi besar di AS. “Konsentrasi Magnificent-7 stocks saat ini menyumbang lebih dari 32% dari kapitalisasi S&P500. Ini menciptakan downside risk yang signifikan bagi investor global,” ujar Kartika. Ia juga menyampaikan bahwa di tengah risiko fiskal dan geopolitik, emas kembali menjadi pilihan utama sebagai aset lindung nilai, dengan bank sentral negara-negara berkembang seperti Tiongkok terus menambah cadangan emasnya.
Selain itu, Kartika menggarisbawahi bahwa harga minyak cenderung stabil dalam kisaran USD 65–90 per barel, dengan support dari pemangkasan produksi OPEC dan batasan kapasitas cadangan. Sementara itu, USD berpotensi melemah akibat tekanan fiskal AS dan gaya kepemimpinan yang tidak pro-dolar.
Dari dalam negeri, belanja masyarakat terpantau melemah, terlihat dari data Mandiri Spending Index sejak akhir 2024. Pemerintah pun menjalankan kebijakan fiskal yang lebih konservatif, dengan penurunan belanja sosial dan material.
Meski demikian, IHSG masih ditopang oleh saham-saham konglomerasi besar yang memiliki likuiditas tinggi dan daya tahan relatif baik. Emas, aset defensif, serta saham dengan fundamental kuat masih menjadi pilihan utama untuk menghadapi semester kedua mendatang.
Selanjutnya Reyhan Pratama, Technical Analyst Sucor Sekuritas memberikan pandangan mengenai keadaan IHSG kedepan, arah tren akan bergantung pada konfirmasi teknikal di sekitar level MA-20 (7.080). Jika mampu menembus ke atas level ini, maka pola Higher Low (HL) akan terbentuk dan membuka peluang penguatan menuju 7.200 hingga 7.500. Sebaliknya, jika support jebol, IHSG berisiko membentuk Lower Low (LL) baru dengan target koreksi ke area 6.500–6.092.
Dari sisi seasonality, bulan Juli berpeluang menjadi awal rebound jangka pendek, namun Agustus menjadi titik penentu arah. Dalam skenario bullish, IHSG bisa breakout dan menguat hingga akhir tahun. Namun jika tren melemah, koreksi lanjutan bisa terjadi hingga September sebelum berbalik arah di Oktober–November.
STalks
sekuritas terbaik
sekuritas terpercaya
emas